Saatnya Indonesia Beralih ke Sistem Ekonomi Islam
“Permasalahan krisis ekonomi dunia, yang dampaknya di Indonesia hingga otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (8/10) menghentikan sementara atau suspend aktivitas bursa saham, salah satu penyebabnya adalah kebebasan kredit perumahan bagi masyarakat Amerika Serikat, yang masyarakatnya tidak mampu membayar kredit. Logikanya, sebuah perusahaan investasi di bidang property akan mengandalkan kredit Bank untuk membangun sebuah rumah, Bank membutuhkan dana dari negara. Karena sudah sekian banyak yang tidak membayar kredit, dan bunganya, alhasil tidak ada pemasukkan untuk menjalankan usahanya tersebut” kata Ahim Abdurrahim, S.E., M.Si selaku Kepala Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pada dialog yang mengambil tema “Dampak Krisis Perekonomian Amerika Serikat bagi Masyarakat Indonesia”, Kamis (9/10) di ruangannya.
Terkait dengan statement dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang mewajibkan ke 14 Badan Usaha Milik Negara yang listing di New York Stock Exchange (NYSE) untuk memindahkan investasinya di negara lain, Ahim berpendapat bahwa investasi di NYSE sangatlah rentan terhadap spekulasi, karena perusahaan-perusahaan yang listing di NYSE adalah perusahaan multinational, dan dimiliki oleh satu orang bukan milik bersama. Dia juga berujar bahwa, krisis ekonomi besar-besaran yang langsung dirasakan oleh Amerika Serikat adalah dampak dari ekonomi kapitalis.
Dia memberikan langkah taktis bagi Pemerintah Indonesia untuk segera mengubah sistem perekonomian di Indonesia, dengan sistem perekonomian Islam. Ekonomi Islam berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis yang banyak digunakan oleh negara-negara maju, kata Ahim. Ekonomi Islam dalam kepemilikan hajat hidup orang banyak tidak dikuasai oleh pribadi, tetapi dikuasai oleh negara, tegasnya. Dia memberikan contoh real sekarang ini, semua perusahaan telekominikasi sudah dimiliki oleh orang asing. Memang telekomunikasi seolah-olah tidak penting, namun untuk berbicara mengenai kerahasiaan negara tentang pembangunan negara Indonesia ke depan, akan didengar oleh pihak asing, tambahnya. Akibatnya, pihak asing akan mengatur strategi untuk mempermainkan Indonesia, ujar Ahim.
Dosen mata kuliah Akuntansi Syariah ini menyarankan, janganlah apriori dengan ekonomi Islam, maksud apriori adalah bertolakbelakang dengan apa yang belum pernah dikerjakan. Bisnis di bursa saham hanya mengandalkan spekulasi, katanya. Bisnis menurut Islam adalah kerjasama bisnis yang menghasilkan barang, misalnya kerjasama perbankan syariah. Dengan melakukan kerjasama melalui perbankan syariah, akan mendorong kemajuan sektor riil, dan tidak spekulatif, tambah Ahim.
Indonesia termasuk negara yang masyarakatnya memiliki tingkat konsumtivismenya tinggi, tetapi tingkat penyediaan barangnya yang rendah, kata Ahim. Dia memberikan contoh yang sangat mudah yaitu Bahan Bakar Minyak (BBM), Indonesia termasuk negara penghasil BBM, tetapi segala kebijakan terkait dengan harga minyak masih ikut standar yang ditetapkan oleh Amerika. Ditambah lagi, ketika Indonesia kekurangan minyak pasti akan mengimpor dari Amerika, dan Amerika mengikuti harga kurs dolar.
Diskusi yang diikuti oleh mahasiswa UMY, dia memberikan solusi bagi masyarakat Indonesia yang belum merasakan, dan sedang menunggu dampak krisis AS. Ahim menyitir 10 panduan pemerintah bagi masyarakat Indonesia. Salah satunya, bangga dengan produk dalam negeri, akan meningkatkan kemandirian negara. Selanjutnya, menggerakkan sektor riil akan meningkatkan roda perekonomian Indonesia di segala bidang, ujar Ahim. sumber : umy.ac.id
umy
Posted on October 10th, 2008 by admin
Filed under: umy

Leave a Reply